Merehabilitasi Perempuan Korban Konflik Poso lewat Sekolah Toleransi

JAKARTA – Banyak cara menyembuhkan luka korban pasca konflik di daerah-daerah rawan. Cara yang dipilih oleh Mosintuwu Intitute yakni dengan pemberian materi soal toleransi.

Salah satu pengurusnya, Asni Yati Hamidi, merupakan alumnus angkatan pertama sekolah perempuan yang berdiri di Poso ini.

“Kami dikumpulkan dari 14 desa dan belajar bersama agama Kristen, muslim. Sering bertemu sehingga kedamaian tercipta dengan sendirinya,” ujar Asni saat ditemui di Jakarta, Minggu (12/6/2016).

Asni mewakili Mosintuwu Institute untuk menerima penghargaan dari Maarif Institute. Gerakan sekoleh perempuan ini berangkat dari tersingkirkannya peran perempuan dalam proses rehabilitasi pasca konflik.

Forum-forum komunitas yang memutuskan kebijakan perdamaian hanya diisi oleh kaum lelaki. Oleh karena itu, Lian Gogali mendirikan Mosintuwu Institute. Selama belajar di sana, Asni terkesan dengan salah satu materi, yakni tentang toleransi dan perdamaian.

Tak hanya materi, tetapi juga praktik dengan mendatangi rumah ibadah berbagai agama untuk melihat langsung praktik mereka beribadah.

“Selama ini kami hanya berasumsi, agama ini seperti ini dan agama itu seperti itu. Tapi ketika kami kunjungi, kami bebas bertanya apa saja pada tokoh agama,” kata Asni.

Asni mengakui cukup sulit membuat perempuan-perempuan di sana berpikiran terbuka untuk keluar dari pemikiran yang memicu konflik berkelanjutan. Bahkan, yang sudah mengikuti sekolah perempuan saja masih banyak yang berguguran.

Asni lantas mengisahkan sedikit pengalamannya soal konflik di Poso yang dia alami sendiri. Banyak anggapan bahwa pemicu konflik di Poso lantaran suku atau agama tertentu.

“Tapi saya lihat teman saya Kristen lari, Islam lari. Musuh kita sebenarnya siapa? Saya juga ikut mengungsi ke kota, baru ke Palu,” kata Asni.

Dari informasi yang Asni kumpulkan, ternyata bukan masalah agam pemicunya. Hal tersebut lebih berdasar pada konflik politik di mana masyarakat Poso dijadikan korban oleh kekuasaan politik.

“Karena saya melihat, dikatakan muslim dan kristen itu konflik, tapi mereka baik-baik saja,” kata Asni.

Saat ini, Asni menjadi salah satu pengurus di Mosintuwu Institute. Ia berharap dengan penghargaan dari Maarif Institute ini, maka kekuatan perempuan di Poso dalam merehabilitasi keadaan pasca konflik mendapat tempat di sana.

(Kompascom, 13/07/2016)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *