Sosial Media Bisa Jadi Gerakan Kebudayaan Bangun Peradaban

Berpolitik dengan menggunakan mata hati, nurani dan keyakinan pada akhirnya kebenaran akan menang.

Hadirnya elemen Nasional Cyber Indonesia yang bekerja untuk kebangsaan di dunia virtual harus bisa hadirkan kesadaran nilai kebudayaan dengan peradaban dan mampu menggelorakan semangat cinta tanah air untuk Indonesia raya.

Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan menegaskan hal tersebut saat berbicara di forum Seminar Kebangsaan Nasionalis Cyber Indonesia bertema “Semangat Nasional Cyber Untuk Indonesia Jaya” di Yogyakarta, Sabtu, 2/12/2017.

“Garis perjuangan politik kita jelas. Gagasan politik yang bangun peradaban, berpikir positif akan jauh lebih masuk dari pada berteriak sarkasme,’ kata Hasto Kristiyanto.

Selain Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, dihadirkan juga sejumlah pembicara lain seperti Prof Syafii Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah, Putra Nababan (profesional), Semuel Pangarepan (Dirjen Aptika Kominfo), Jack Lapian (aktifis medsos) dan M Yamin (Sekretariat Nasional Jokowi).

Kegiatan yang dihadiri juga oleh Ketua Komisi A DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan diikuti oleh beragam perwakilan pelaku medsos di DIY dan mahasiswa dari berbagai kampus.

Di kesempatan ini, Hasto Kristiyanto menegaskan bagaimana potret Indonesia yang dirancang oleh para pendiri republik dengan sangat baik, kepemimpinan, patriotisme dan cinta tanah air perlu selalu ditumbuhkan.

Di banyak kebudayaan, agama jadi pemandu nilai moral untuk perjuangan bangsa seperti di Sumatra Barat ada lima belas tokoh dari daerah ini yang bisa diteladani sikapnya.

Pemikiran nasionalis dengan rasa cinta tanah air, seperti dicontohkan oleh Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Tan Malaka, Mohammad Yamin, Haji Agus Salim dengan latar belakang Islam menunjukan rasa kebangsaan yang bisa kita rawat sampai kini.

“Inilah yang membuat saya optimis, di tengah perang ideologi dan gagasan , sejarah sintesa yang sempurna agama-nasionalis bisa berjalan baik,” kata Hasto Kristiyanto.

Rasa cinta tanah air yang berkobar ini harus jadi benteng ke-Indonesiaan untuk konsolidasi saat ini. Indonesia banyak punya konten yang bangun kebangsaan. Pemikiran Soekarno dengan Trisakti dan Pancasila harus menjadi jiwa bangsa untuk membawa kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.

Maka dengan bersandar pada aspek filsafat, politik dan kebudayaan maka pengorganisasian nasionalis, kebangsaan dan Pancasilais, Indonesia yang begitu indah, beragam harus bangun pemikiran yang bangun peradaban.

“Kita dipersatukan bukan oleh partai dengan apapun pilihan politik, tantangan negara Indonesia yang berbhinneka ini jangan sampai terpecah belah karena provokasi perbedaan agama,” kata Hasto Kristiyanto.

Prof Syafii Maarif menyampaikan hadirnya pelaku medsos yang mau juga bersuara terkait kebangsaan Indonesia penting untuk berikan suara melawan tudingan kelompok yang menyempal dan membawa isu agama.

“Masalah Islam, masalah agama dan nasionalisme dalam sejarah kebangsaan Indonesia sudah selesai. Islam dan nasionalis sudah selesai tak ada masalah, kita jangan bawa budaya dari luar yang salah, tidak cocok itu,” kata Syafii Maarif.

Guru besar sejarah UNY ini juga mengingatkan bagaimana Soekarno saat menulis di dalam Indonesia Merdeka, tidak akan ada lagi kemiskinan, pertumbuhan untuk siapa?

“Kalau kini masih kita hadapi ketimpangan sosial, itulah sumbu kering yang mudah ditunggangi ideologi kekerasan. Kita jangan habiskan energi ke situ,” kata Syafii Maarif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *